hukum aborsi kandungan

Fakta yang mencuat bahwa tindakan aborsi semakin tahun semakin bertambah. Berdasarkan data dari WHO sejak tahun 2008, terdapat 21,6 juta wanita di seluruh dunia melakukan tindak aborsi setiap tahunnya dan berkisar 18,5 juta di antaranya terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

Dilansir dari NCBI, aborsi kandungan didefinisikan sebagai prosedur pengakhiran masa kehamilan yang tidak diinginkan, yang dilakukan dengan bantuan medis seperti; obat-obatan juga bisa dengan proses bedah seperti; dilatasi dan kuretase.

Inilah Status Hukum Aborsi Kandungan Berlaku di 6 Negara Asia

Aborsi termasuk dalam tindakan medis yang dilindungi oleh undang-undang. Setiap pelanggaran aborsi merupakan tindak kriminal yang dapat terjerat hukum pidana. Status hukum aborsi yang dibuat menurut undang-undang dan konstitusi dari setiap negara berbeda-beda, diantaranya :

1. Hukum Aborsi di Indonesia

Hukum aborsi kandungan di Indonesia diatur dalam UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi.

Aborsi di Indonesia tidak diizinkan, dengan perkecualian kedaruratan medis yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, serta bagi korban perkosaan.

Tindakan aborsi atas dasar gawat darurat medis hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari seorang wanita hamil dan pasangannya (kecuali bagi korban perkosaan) melalui konseling atau konsultasi pra-tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.

2. Hukum Aborsi di Malaysia

Hukum aborsi kandungan di Malaysia diatur dalam Penal Code Section 312 tahun 1989. Tindakan aborsi di Malaysia dapat dilakukan, jika :

  • Kehamilan mengancam nyawa ibu
  • Dilakukan atas dasar menjaga kesehatan fisik
  • Dilakukan atas dasar menjaga kesehatan mental

Tetapi, aborsi tetap tidak diizinkan bagi korban perkosaan, alasan keuangan, alasan sosial, maupun risiko janin lahir cacat. Lebih lanjut, sebelum seorang wanita hamil bisa menjalankan aborsi, ia harus menyetujui prosedur tersebut dan mendapatkan persetujuan pra-medis dari dokter atau pelayanan kesehatan yang bertanggung jawab.

3. Hukum Aborsi di Singapura

Hukum aborsi kandungan di Singapura adalah legal dan diatur dalam statuta Termination of Pregnancy Act, alias TOP Act.

Statuta ini mengatur siapa saja dan bagaimana aborsi kandungan dapat dilakukan, antara lain :

  • Warga negara Singapura atau penduduk permanen Singapura
  • Seorang wanita yang telah tinggal di Singapura sekurang-kurangnya 4 bulan
  • Tidak ada batasan umur untuk menjalankan aborsi
  • Wanita yang berusia 21 tahun dan lebih dapat meminta aborsi atas keinginannya sendiri
  • Aborsi dilarang dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 24 minggu (6 bulan), kecuali kehamilan tersebut mengancam nyawa seorang wanita hamil

Serupa dengan Indonesia, wanita yang ingin melakukan aborsi di Singapura harus terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter dan konselor kompeten.

4. Hukum Aborsi di Filipina

Berdasarkan Artikel II dari Konstitusi Filipina 1987 dan Artikel 256, 258, dan 259 dari Revised Penal Code of The Phillipines, aborsi termasuk tindakan kriminal dan bisa dijerat hukum pidana dengan tidak adanya pengecualian, bahkan keselamatan nyawa dan kesehatan ibu dan janin, serta korban perkosaan. Hukuman penjara bagi pelaku tindak aborsi berkisar dari enam bulan hingga enam tahun.

5. Hukum Aborsi di Korea Selatan

Hukum aborsi kandungan di Korea Selatan adalah ilegal, berdasarkan keputusan mahkamah konstitusional Republik Korea Selatan. Pelarangan ini telah berlangsung selama 63 tahun semenjak aborsi pertama kali dilarang tahun 1953. Kemudian pada tahun 1973, Maternal and Child Health Law membuat beberapa pengecualian dalam tiga situasi berikut :

  • Guna keselamatan nyawa seorang wanita hamil
  • Jika wanita hamil menderita penyakit menular atau kelainan genetik lainnya yang telah ditentukan dalam Presidential Decree
  • Kehamilan terjadi akibat pemerkosaan atau inses

6. Hukum Aborsi di Jepang

Hukum aborsi kandungan termasuk tindak pidana di negara Jepang. Namun, aborsi bisa dilakukan dan dilindungi oleh dua statuta : Eugenic Protection Law 1948 dan versi revisinya, Maternal Body Protection Law 1996, dengan ketentuan berikut ini :

  • Guna menyelamatkan nyawa dan kesehatan fisik wanita hamil
  • Kehamilan yang terjadi hasil perkosaan atau inses
  • Alasan finansial dan sosial

Dengan catatan, aborsi menjadi ilegal jika dilakukan atas dasar cacat janin atau kesehatan mental wanita hamil. Aborsi legal hanya boleh dilakukan dalam 24 minggu (6 bulan) pertama usia kehamilan, wajib dalam fasilitas medis memadai di bawah pengawasan dokter yang telah ditunjuk oleh asosiasi medis lokal dan atas persetujuan dari pasien.

[Total: 6    Average: 5/5]